Otomotif

Membongkar Mitos: Apakah Mobil Listrik Benar-benar Ramah Lingkungan?

Ashevilleglass.com – JAKARTA – Salah satu alasan beralihnya konsumen ke mobil hybrid atau listrik akibat lebih tinggi ramah lingkungan. Benarkah?

Saat ini, banyak pengamat juga analis memperdebatkan peran EV serta hybrid di tempat masa depan. Benarkah sebesar itu? Adakah dampaknya bagi inovasi iklim dan juga juga bumi?

Untuk mengetahui secara pasti berapa berbagai polusi pemanasan global yang digunakan dikeluarkan sebuah mobil, seluruh siklus hidupnya perlu diperhitungkan.
Jadi, bukanlah belaka apa yang dimaksud mengundurkan diri dari dari knalpot. Namun juga apa yang diperlukan untuk mendirikan mobil serta membawanya ke diler.

Jumlah Pencemaran Ketika Mobil Diproduksi

Mobil bertenaga bensin, hibrida, serta EV semuanya mengeluarkan jumlah total polusi untuk diproduksi.

Mobil listrik menggunakan elemen penyimpan daya besar yang dimaksud terbuat dari komponen yang mana butuh penambangan berat. Hal ini menimbulkan merek rata-rata 40% tambahan kotor untuk diproduksi daripada kendaraan hybrid lalu bertenaga bensin, menurut sebuah studi.

Namun, gambarannya berubah sepanjang siklus hidup mereka. Mobil bertenaga bensin adalah yang mana terbersih untuk dibuat. Namun, paling kotor sepanjang masa pakai dikarenakan polusi knalpotnya sangat tinggi.

EV mungkin saja yang tersebut paling intensif karbon untuk diproduksi, tetapi merekan memancarkan polusi karbon paling sedikit selama masa pakainya: 40% tambahan sedikit daripada mobil bertenaga bensin.

Studi lain menunjukkan bahwa setelahnya sekitar dua tahun, polusi yang tersebut dihemat dengan mengendarai EV mengimbangi polusi yang dimaksud dihasilkannya selama produksi.

Mobil hybrid berada di dalam tengah; rata-rata, merekan menciptakan sekitar 17% tambahan sejumlah polusi karbon daripada EV. Tapi tidaklah semua hibrida diciptakan sama.

Hybrid murni menggunakan bensin serta menyimpan energi berlebih dari rem, serta terkadang dari mesin bensin, menjadikannya lebih besar hemat komponen bakar daripada mobil biasa.

Plug-in hybrid (hybrid yang dimaksud dapat ngecas untuk isi ulang baterai), pada sisi lain, menawarkan yang mana terbaik dari kedua dunia. Yakni, keandalan dan juga jangkauan mobil bensin tetapi dengan polusi serta penyelenggaraan substansi bakar yang tersebut lebih besar sedikit, kemudian lebih lanjut terjangkau daripada EV.

Plug-in hybrid menggunakan akumulator mirip EV serta biasanya dapat menempuh jarak 30-80 km dengan tenaga listrik. Namun mereka juga mempunyai tangki unsur bakar lalu dapat beralih ke hybrid murni pasca akumulator habis.

Beberapa plug-in hybrid bersaing segera dengan EV di polusi siklushiduppenuh.

Related Articles

Back to top button
error: Content is protected !!