Bisnis

Nggak Main-main! Hal ini Potensial Perekonomian Hilirisasi Migas di area Dalam Negeri

Ashevilleglass.com – JAKARTA – Hilirisasi menjadi salah satu upaya pemerintah guna mendongkrak nilai tambah pada di negeri. Seperti halnya pada sektor tambang, pengembangan lebih lanjut dalam sektor migas ternyata juga menawarkan faedah perekonomian luar biasa bagi Indonesia.

Terungkap pada catatan ReforMiner Institute, proses lanjut juga keberadaan lapangan usaha kilang migas tercatat telah lama memberikan faedah ekonomi lalu menjadi motor penggerak utama sejak awal pelaksanaan penyelenggaraan pada Indonesia. Keberadaan kilang migas menjadi salah satu alasan pemerintah dapat memberlakukan kebijakan materi bakar minyak (BBM) bersubsidi yang mana lantas menjadi katalis bagi perkembangan ekonomi.

“Berdasarkan data lalu informasi, pelaksanaan proses pengolahan lebih lanjut migas yang akan dilaksanakan untuk tahun 2025-2040 ditargetkan akan mendatangkan total pembangunan ekonomi sekitar Rp1.053 triliun, yang dimaksud terdistribusi berhadapan dengan Rp314,71 triliun untuk proses lanjut minyak bumi lalu Rp771,70 triliun untuk proses pengolahan lebih lanjut gas bumi,” papar Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi di catatan tersebut, disitir Rabu (13/3/2024).

Hilirisasi migas yang digunakan akan dilaksanakan pada 2025-2040 tersebut, beberb dia, diproyeksikan berpotensi memberikan dampak positif terhadap kinerja sektor moneter Indonesia lalu stabilitas nilai tukar rupiah. “Pelaksanaan proses pengolahan lebih lanjut migas diproyeksi akan menghemat penyelenggaraan devisa impor sekitar USD73,30 miliar atau setara dengan Rp1.134 triliun,” tuturnya.

Salah satu bentuk proses pengolahan lebih lanjut migas adalah sektor kilang. Menurut Komaidi, sampai ketika ini bidang kilang migas masih berperan penting terhadap perekonomian Indonesia. Berdasarkan data, jelas dia, bidang kilang migas memiliki keterkaitan dengan sekitar 93 sektor perekonomian pendukung sebagai pemasok input lalu dengan 183 sektor kegiatan ekonomi pengguna yang mana menggunakan hasil produksi dari bidang kilang.

Peran penting bidang kilang juga terlihat dari alokasi hasil produksi. Sekitar 67,25 % output lapangan usaha kilang dialokasikan sebagai input atau komponen baku untuk sekitar 183 sektor dunia usaha penggunanya. Sementara sekitar 32,75 % output lapangan usaha kilang dialokasikan untuk memenuhi permintaan akhir atau konsumsi yang mana bukan terkait dengan proses produksi.

Berdasarkan analisis model Input-Output (IO), jelas Komaidi, lapangan usaha kilang mempunyai total nilai efek pengganda (multiplier effect) kegiatan ekonomi dari keterkaitan dengan sektor pendukung juga penggunanya sebesar 9,1604. “Artinya, apabila terdapat tambahan pembangunan ekonomi sebesar Rp1 triliun pada sektor kilang, total kegunaan perekonomian yang mana berpotensi dapat tercipta pada seluruh struktur perekonomian
Indonesia adalah sekitar Rp9,16 triliun,” tandasnya.

Dia menambahkan, analisis model IO juga menemukan bahwa sektor kilang migas miliki keterkaitan dengan sebagian besar pembentukan komoditas domestik bruto (PDB) Indonesia. Industri pendukung bidang kilang tercatat terkait dengan sekitar 67,48% pembentukan PDB, sedangkan sektor pengguna bidang kilang terkait dengan sekitar 99,71% pembentukan Pendapatan Domestik Bruto Indonesia. Hilirisasi serta prospek perusahaan sektor kilang migas pun diproyeksikan masih cukup baik dan juga besar. Hal itu terkait dengan kondisi pada waktu ini di tempat mana sekitar 70% keinginan petrokimia dan juga 32% keperluan BBM Indonesia, masih dipenuhi dari impor.

Komaidi menambahkan, proses lanjut migas juga berpotensi memberikan kegunaan positif terhadap kinerja keuangan Pertamina dan juga keuangan negara. Informasi menunjukkan, pendapatan segmen kilang juga petrokimia Pertamina pada tahun 2022 dilaporkan sekitar Rp572 triliun. Sementara, partisipasi segmen kilang lalu petrokimia Pertamina terhadap penerimaan negara melalui pembayaran pajak (PPh 22 Impor, PPN & PPnBM, Bea dan juga Cukai, dan juga Pajak Daerah) pada tahun 2022 tercatat mencapai Rp49,72 triliun.

Mengingat besarnya faedah dunia usaha pengembangan lebih lanjut tersebut, Komaidi menyokong pemerintah untuk merumuskan dukungan kebijakan yang mana optimal untuk pengembangan sektor kilang di dalam Indonesia. “Untuk itu, kebijakan pengembangan kilang pada negara-negara lain seperti melalui pemberian insentif penanaman modal juga perpajakan, atau bahkan berperan segera sebagai pelaksana di perkembangan kilang, kiranya dapat dipertimbangkan untuk diadopsi,” tandasnya.

Related Articles

Back to top button
error: Content is protected !!