Kesehatan

Nyeri Punggung Jangan Dianggap Sepele, Deretan Penyakit Ini adalah Membutuhkan Operasi Tulang Belakang

Ashevilleglass.com – Nyeri punggung adalah salah satu kesulitan kemampuan fisik yang tersebut umum terjadi. Penyebabnya pun cukup beragam menurut Consultant Orthopaedic Spine Surgeon dari ALTY Hospital Kuala Lumpur Dr. Lee Chee Kean, mulai dari otot, syaraf hingga gangguan kritis pada tulang belakang. 

Untuk membedakannya, kata Dr. Lee, Anda dapat meninjau rasa sakitnya terlebih dahulu. Bila terjadi kesulitan pada otot, nyeri punggung biasanya akan mereda di 1 atau 2 hari. 

Namun, apabila pegal-pegal hingga nyeri punggu terjadi berkepanjangan dan juga bahkan terjadi secara berulang, dan juga semakin hari makin terasa semakin parah, Dr. Lee menyarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut lanjut. 

Sebab terkadang gangguan kritis pada tulang belakang memerlukan intervensi medis melalui operasi. Ada beberapa kondisi yang mana dapat menyebabkan gangguan tulang belakang yang mana parah, yang dimaksud memerlukan intervensi bedah kata Dr. Lee.

Ilustrasi perempuan kena skoliosis [shutterstock]
Ilustrasi perempuan kena skoliosis [shutterstock]

Beberapa di area antaranya termasuk, Hernia nukleus pulposus (HNP). Kondisi ini juga dikenal sebagai saraf terjepit. Hal ini terjadi ketika inti pulposus dari cakram intervertebralis (bantalan tulang punggung) menonjol meninggalkan dari tempatnya serta menekan saraf spinal.

“Saraf kejepit berbeda dari nyeri punggung biasa saja. Asal puncak sakit datang dari saraf bagian punggung, biasanya terasa pada sepanjang punggung sampai ke pinggul bergantung pada saraf kiri atau kanan, yang mana akan terasa dalam sepanjang kaki,” kata dia.

Gejala sanggup terdiri dari nyeri punggung, kelemahan otot, kebas, kesemutan hingga kehilangan kontrol motorik. Biasanya keluhannya akan tambahan berat pada waktu seseorang berjalan atau berdiri terlalu lama.

Selain itu, skoliosis yang tersebut parah juga memerlukan operasi. Gangguan ini ditandai oleh kelengkungan abnormal tulang belakang. Operasi dilaksanakan untuk memberhentikan kelengkungan pada tulang belakang, mengoreksinya dam menjaga dari komplikasi seperti nyeri kronis juga hambatan pernapasan.

Lainnya adalah spinal stenosis, kondisi yang digunakan terjadi ketika saluran tulang belakang menyempit, menekan saraf spinal juga memunculkan gejala seperti nyeri, kelemahan, lalu kesulitan berjalan.

Operasi Tulang Belakang

Ada beberapa pemeriksaan yang dimaksud diperlukan untuk sebelum dokter memutuskan untuk menjalani operasi tulang belakang. Ini adalah diperlukan untuk memverifikasi permintaan yang dimaksud tepat juga mengevaluasi risiko terkait.

Salah satunya adalah Magnetic resonance imaging (MRI) yang digunakan dipakai untuk mendapatkan deskripsi yang digunakan detail tentang struktur tulang belakang, saraf, kemudian jaringan lunak. Hal ini membantu pada diagnosis kondisi seperti HNP atau stenosis spinal.

Menurut Dr. Lee, proses operasi tulang belakang biasanya memakan waktu sekitar satu jam, tergantung keparahan kasusnya.  

“Kalau itu kasusnya susah, kita akan ada tim, jadi dapat berbagi opini dari ahli konsultasi tulang belakang,” jelasnya.

Meskipun operasi tulang belakang rutin kali merupakan solusi yang tersebut efektif untuk mengatasi gangguan serius, tetapi operasi ini, seperti halnya operasi lainnya, memiliki risiko.

Di antaranya adalah infeksi yang dapat terjadi dalam area operasi atau bahkan memengaruhi sistem tubuh secara keseluruhan, kecacatan pada saraf spinal yang digunakan dapat mengakibatkan gejala seperti nyeri kronis, kelemahan, hingga kehilangan fungsi motorik.

Serta risiko yang digunakan terkait dengan anestesi termasuk reaksi alergi atau komplikasi pernapasan. Karena itu kata dia, biasanya pasien dengan lanjut usia membutuhkan pemeriksaan lebih tinggi lanjut sebelum menjalani operasi, salah satunya adalah pemeriksaan jantung.

Walaupun miliki risiko, tetapi Dr. Lee menegaskan bahwa dengan pemeriksaan yang memadai juga pasukan yang kompeten, risiko operasi tulang belakang tidaklah tinggi.  

“Itu bukan berisiko tinggi. Biasanya satu persen atau bahkan kurang dari satu persen. Yang paling penting adalah memahami keadaan pasien seutuhnya,” tambahnya. 

Related Articles

Back to top button
error: Content is protected !!